Sebuah karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan
yang merupakan hasil pemikiran, fakta, peristiwa, gejala, dan pendapat. Jadi,
seorang penulis karya ilmiah menyusun kembali pelbagai bahan informasi menjadi
sebuah karangan yang utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah
tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis (Soeseno, 1981:
1).
Dalam
uraian di atas dibedakan antara pengertian realitas dan fakta. Seorang
pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita, sedangkan
seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan.
Realistis berarti bahwa peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan
dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung
dialami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dan dokumen, surat
keterangan, press release, surat kabar atau sumber bacaan lain, bahkan
suatu peristiwa faktual. Faktual berarti bahwa rangkaian peristiwa atau
percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat, dirasakan, dan dialami oleh
penulis (Marahimin, 1994: 378).
Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas.
Meskipun demikian, dalam karya ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peranan
utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif
tetap harus dipikirkan. Penulisan karya ilmiah bukan hanya untuk
mengekspresikan pikiran tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus
dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan.
Dapat pula, kita menumbangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita.
Jadi, sebuah karya ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan
kepada pembacanya.
Persyaratan bagi sebuah tulisan untuk dianggap sebagai karya
ilmiah adalah sebagai berikut (Brotowidjojo, 1988: 15-16).
1.
Karya ilmiah menyajikan fakta objektif secara
sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2.
Karya ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar,
jujur, dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung
sikap etik penulisan ilmiah, yakni penyebutan rujukan dan kutipan yang jelas.
3.
Karya ilmiah disusun secara sistematis, setiap langkah
direncanakan secara terkendali, konseptual, dan prosedural.
4.
Karya ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan
pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik
kesimpulan.
5.
Karya ilmiah mengandung pandangan yang disertai
dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis.
6.
Karya ilmiah ditulis secara tulus. Hal itu berarti
bahwa karya ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan
memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh
memanipulasi fakta, tidak bersifat ambisius dan berprasangka. Penyajiannya
tidak boleh bersifat emotif.
7.
Karya ilmiah pada dasarnya bersifat ekspositoris. Jika
pada akhirnya timbul kesan argumentatif dan persuasif, hal itu ditimbulkan oleh
penyusunan kerangka karangan yang cermat. Dengan demikian, fakta dan hukum alam
yang diterapkan pada situasi spesifik itu dibiarkan berbicara sendiri. Pembaca
dibiarkan mengambil kesimpulan sendiri berupa pembenaran dan keyakinan akan
kebenaran karya ilmiah tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, dari segi
bahasa, dapat dikatakan bahwa karya ilmiah memiliki tiga ciri, yaitu :
1.
harus tepat dan tunggal makna, tidak remang nalar atau
mendua makna
2.
harus secara tepat mendefinisikan setiap istilah,
sifat, dan pengertian yang digunakan, agar tidak menimbulkan kerancuan atau
keraguan
3.
harus singkat, berlandaskan ekonomi bahasa.
Disamping persyaratan tersebut di atas, untuk
dapat dipublikasikan sebagai karya ilmiah ada ketentuan struktur atau format
karangan yang kurang lebih bersifat baku. Ketentuan itu merupakan kesepakatan
sebagaimana tertuang dalam International Standardization Organization
(ISO). Publikasi yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang tercantum
dalam ISO memberikan kesan bahwa publikasi itu kurang valid sebagai terbitan
ilmiah (Soehardjan, 1997 : 10). Struktur karya ilmiah (Soehardjan, 1997 : 38)
terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, bahan dan metode, hasil
dan pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih dan daftar pustaka. ISO 5966 (1982) menetapkan agar karya ilmiah
terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, kata kunci, pendahuluan, inti
tulisan (teori metode, hasil, dan pembahasan), simpulan, dan usulan, ucapan
terima kasih, dan daftar pustaka (Soehardjan, 1997 : 38).
B. EKSPOSISI, ARGUMENTASI, NARASI, DESKRIPSI
1. Paragraf Narasi
Paragraf Narasi ialah paragraf yang bertujuan untuk menceritakan suatu peristiwa atau kejadian
sehingga pembaca seolah-olah mengalami kejadian tersebut.
Tepat ketika tanggal 10 Maret, sekolahku libur selama
sembilan hari dan akan berakhir pada tanggal 18 Maret. Aku dan seluruh
keluargaku tidak menyia-nyiakan waktu ini untuk mengadakan liburan keluarga.
Ketika itu aku memilih berlibur ke Pantai Parangtritis. Pagi-pagi aku telah
berbenah dan menyiapkan semua perbekalan yang nantinya diperlukan. Sepanjang
perjalanan, aku iringi dengan nyanyian lagu riang. Betapa senangnya aku ketika
sampai di pantai tersebut. Dengan hati suka ria, aku sambut Pantai Parangtritis
dengan senyumku. Pantai Parangtritis, pantai nan elok yang menjadi favoritku.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku mengajak kakakku untuk bermain air. Kuambil air
dan aku ayunkan ke mukanya. Dengan canda tawa, kami saling berbalasan. Puas
rasanya, terasa hilang semua kepenatan karena kesibukan tiap harinya. Di sana,
aku dan seluruh keluargaku saling berfoto-foto untuk mengabadikan momen yang
indah ini. Tak terasa waktu berjam-jam telah kuhabiskan disana. Hari pun mulai
sore menandakan perpisahan dan kembali pulang. Tak rela rasanya kebahagiaan ini
akhirnya selesai. Dalam benakku, aku kan kembali esok.
2. Paragraf Deskripsi
Paragraf Deskripsi adalah merupakan paragraf yang bertujuan menggambarkan sebuah objek nyata agar
pembaca seolah-olah melihat sendiri objek yang di gambarkan itu.
Contoh Paragraf Deskripsi :
Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok
pantai Parang Tritis. Gelombang ombak bergulung-gulung datang silih berganti
menyambutku serasa ingin mengajak bermain. Air yang jernih dan pasir putih
lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-tumbuhan atau karang yang
menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-kiri, aku bisa
memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu, pesisir
serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin
membasuh kakiku karena ombah menghempas kakiku dan terasa asin air itu ketika
bibirku
terkena percikan. Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi
oleh pengunjung wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir
pantai, bermain bola, bermain dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar
pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik, kulihat ada beberapa turis manca
negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik delman. Seperti apa yang
aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak pernah sunyi pantai
Parang Tritis.
3. Paragraf Eksposisi
Paragraf Eksposisi adalah paragraf yang bertujuan memaparkan sebuah sejumlah informasi atau
pengetahuan agar pambaca dapat menambah informasi atau pengetahuan.
Contoh Paragraf Eksposisi:
Parangtritis adalah nama desa di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Di desa ini terdapat pantai Samudera Hindia yang terletak kurang
lebih 25 km sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek
wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti
Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan
pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak
yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai,
gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh
pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun
pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Selain itu ada pemandian yang
disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam
penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung
belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. Air panas dari
parang wedang dialirkan ke pantai parangtritis untuk bilas setelah bermain
pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-anak. Di Parangtritis ada juga
ATV, kereta kuda & kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur
ke barat. selain itu juga parangtritis sebagai tempat untuk olahraga
udara/aeromodeling.
4. Paragraf Argumentasi
Paragraf Argumentasi adalah paragraf yang
bertujuan untuk mengemukakan contoh, asalan, bukti-bukti yang kuat dan
meyakinkan dengan tujuan meyakinkan pembaca sehingga pembaca membenarkan sikap,
pernyataan, dan keyakinan kita.
Contoh Paragraf Argumentasi :
Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan
ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian
masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan
hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal,
ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian
menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai
Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan
mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga
mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali
dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis,
juga menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat
palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit
diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati
tenggelam.
C. Syarat Pembentukan Paragraf
Dalam pembentukan/pengembangan paragraf,ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan, diantranya:
1. Kesatuan
Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu, di dalam pengembangannya, uraian-uraian dalam sebuah paragraf tidak boleh menyimpang dari gagasan pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat oleh satu gagasan pokok dan merupakan satu kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus terfokus pada gagasan pokok.
2. Kepaduan
Sebuah paragraf bukanlah sekedar kumpulan kalimat-kalimat yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan adanya kepaduan, dan pembaca pun dapat dengan mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan.
Kata atau frase transisi yang dapat dipakai dalam karangan ilmiah sekaligus sebagai penanda hubungan dapat dirinci sebagai berikut.
- Hubungan yang menandakan tambahan kepada sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya, misalnya: lebih-lebih lagi, tambahan, selanjutnya, di samping itu, lalu, seperti halnya dll
- Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya: lain halnya, seperti, meskipun dll
- Hubungan yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya; misalnya: tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya dll
- Hubungan yang menyatakan akibat/hasil; misal: sebab itu, oleh sebab itu, karena itu, jadi dll
- Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya: sementara itu, segera, kemudian dll
- Hubungan yang menyatakan singkatan, misal: ringkasnya, misalnya, yakni, sesungguhnya dll
- Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya: di sana, dekat, di seberang dll
Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama.
Letak Kalimat Topik dalam Sebuah Paragraf
Sebuah paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling menunjang dan hanya mengandung satu gagasan pokok saja. Gagasan pokok itu dituangkan ke dalam kalimat topik / kalimat pokok. Kalimat topik/kalimat pokok dalam sebuah paragraf dapat diletakkan, di akhir di awal, di awal dan akhir, atau dalam seluruh paragraf itu.
Pengembangan Paragraf.
Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu.
Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.
Paragraf Berdasarkan Teknik Pengembangannya
1. Secara Alamiah
Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu:
– urutan ruang (spasial), membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas, dan sebagainya;
– urutan waktu (kronologis), menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.
2. Klimaks dan Antiklimaks
Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya.
3. Umum – Khusus & Khusus – Umum (deduktif & induktif)
Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif. Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara deduktif dan induktif.
D. Kalimat Topik dan Peletakannya
Kalimat utama adalah kalimat yang berisi ide pokok atau kalimat yang masih membutuhkan penjelasan.
Paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya dibedakan menjadi:
1. Paragraf deduktif
Paragraf deduktif adalah paragraf yang meletakkan kalimat utamanya di awal paragraf.
2. Paragraf induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang meletakkan kalimat utamanya di akhir paragraf.
3. Paragraf campuran (deduktif-induktif)
Paragraf campuran adalah paragraf yang meletakkan kalimat utamanya di awal & di akhir paragraf
Contoh Paragraf Deduktif
- Ada beberapa penyebab siswa tidak menyukai mata pelajaran bahasa Indonesia. Pertama, metode pengajaran yang digunakan guru tidak menarik. Kedua, anak merasa bosan dengan mata pelajaran bahasa indonesia. Ketiga, guru tidak menguasai materi bahasa indonesia.
- Indonesia merupakan Negara yang kaya akan Sumber daya alam. Contohnya di pulau Sumatra yang terdiri dari suku batak, suku minang , suku aceh, suku melayu dan lain-lain yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Bukan hanya dipulau Sumatra saja, bahkan di pulau Jawa, Kalimantan, dan juga pulau-pulau lainnya juga terdapat macam-macam suku dengan kebudayaannya.
Contoh Paragraf Induktif
- Pada waktu anak didik memasuki pendidikan formal, pendidikan bahasa Indonesia secara metodologis dan sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan memantapkan bahasa daerah. SEtelah anak didik meninggalkan kelas, ia kembali mempergunakan bahasa daerah dengan teman-temannya atau orang tuanya. ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. jam sekolah hanya berlangsung selama beberapa jam. Baik waktu istirahat ataupun diantara jam-jam pelajaran, unsur-unsur bahasa daerah tetap digunakan. Ditambah lagi jika sekolah itu bersifat homogen dan gurunya penutur asli bahasa daeah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengetahuan si anak terhadap bahasa daerahnya akan tetap maju
Contoh Paragraf Campuran
- Angka 13 adalah angka sial. Pernyataan seperti itu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Angka 13 juga sering dikaitkanbdengan hal berbau mistis. Angka 13 sering muncul dalam film atau cerita - cerita horor, seperti Friday 13th, kamar 13, rumah nomor 13, dan masih banyak lagi. Di kehidupan nyata pun masih banyak orang yang percaya akan mitos angka 13. Hal itu tidak hanya dipercaya di Indonesia saja, di negara lain pun memiliki mitos yang sama, bahwa Angka 13 adalah angka sial.
Ada tiga jenis paragraf berdasarkan peletakan gagasan
utama dalam paragraf tersebut yaitu: paragraf deduktif, induktif, dan campuran.
1.
Paragraf
Deduktif
Paragraf Deduktif adalah paragraf
yang diawali dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama yang
bersifat umum kemudian diikuti kalimat-kalimat penjelas yang bersifat khusus.[1] Contoh:
Kemauannya sulit untuk diikuti.
Dalam rapat sebelumnya sudah diputuskan bahwa dana itu harus disimpan dulu.
Para peserta sudah menyepakati hal itu. Akan tetapi, hari ini ia memaksa
menggunakannya membuka usaha baru.[2]
2.
Paragraf
Induktif
Paragraf Induktif adalah paragraf
yang diawali dengan kalimat yang berisi penjelasan- penjelasan kemudian
diakhiri dengan kalimat utama. Paragraf Induktif terbagi menjadi tiga yaitu:
1.
Generalisasi
Generalisasi adalah suatu pola
pengembangan paragraf yang bertolak dari sejumlah fakta khusus yang memiliki
kemiripan menuju sebuah kesimpulan. Kesimpulan generalisasi didahului dengan
penalaran generalisasi. Penalaran generalisasi pun dapat digunakan untuk
mengembangkan paragraf. caranya penulis lebih dulu menyajikan sejumlah peristiwa
khusus dalam bentuk kalimat.Kemudian pada bagian akhir paragraf itu diakhiri
dengan kalimat yang berisi generalisasi dari peristiwa khusus yang telah
disebutkan pada bagian awal. Kalimat terakhir biasanya berisi gagasan utama
paragraf.[3]
Contoh :
Pada hari sabtu, Susi, Amir, dan
Ranti pergi mengunjungi korban bencana banjir di daerah Jakarta Timur. Mereka
mengumpulkan beberapa pakaian, mie, dan makanan ringan untuk dibagikan kepada
korban banjir. Ketiga anak tersebut merupakan siswa yang dermawan dan peduli
pada orang lain.
Yang menjadi penjelasan diatas
adalah :
Pada hari Sabtu, Susi, Amir, dan
Ranti pergi mengunjungi korban bencana banjir di daerah Jakarta Timur merupakan
peristiwa khusus.
Peristiwa khusus itu kita
hubung-hubungkan dengan penalaran yang logis. Topik utama
yang adalah bahwa ketiga anak tersebut
dermawan dan perduli pada orang lain.
Kesimpulannya mereka mengumpulkan
beberapa pakaian, mie, dan makanan ringan untuk dibagikan kepada korban banjir.
Ketiga anak tersebut merupakan siswa yang dermawan dan perduli pada orang lain.[4]
2.
Analogi
Analogi merupakan pola penyusunan
paragraf berupa perbandingan dari dua hal yang mempunyai sifat sama.
Pengembangan paragraf secara analogi ini didasarkan adanya anggapan bahwa jika
sudah ada persamaan dalam berbagai segi maka akan ada persamaan pula dalam hal
yang lain. Contoh :
Alam semesta berjalan dengan sangat
teratur, seperti halnya mesin. Matahari, bumi, bulan, dan binatang yang
berjuta-juta jumlahnya, beredar dengan teratur, seperti teraturnya roda mesin
yang rumit berputar. Semua bergerak mengikuti irama tertentu. Mesin rumit itu
ada penciptanya, yaitu manusia. Tidakkah alam yang Mahabesar dan beredar rapi
sepanjang masa ini tidak ada penciptanya? Pencipta alam tentu adalah zat yang
sangat maha. Manusia yang menciptakan mesin, sangat sayang akan ciptaannya.
Pasti demikian pula dengan Tuhan, yang pasti akan sayang kepada
ciptaan-ciptaan-Nya itu .
Dalam paragraf di atas, penulis
membandingkan mesin dengan alam semesta. Mesin saja ada penciptanya, yakni manusia
sehingga penulis berkesimpulan bahwa alam pun pasti ada pula penciptanya. Jika
manusia sangat sayang pada ciptaannya itu, tentu demikian pula dengan Tuhan
sebagai pencipta alam. Dia pasti sangat sayang kepada ciptaan-ciptaan-Nya itu.
3.
Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah pola
penyusunan paragraf dengan menggunakan beberapa fakta yang mempunyai pola
hubungan sebab-akibat. Contoh :
Jika hujan-hujanan, kita akan sakit
kepala atau Rini pergi ke dokter karena ia sakit kepala.
Ada tiga pola hubungan kausalitas,
yaitu sebab-akibat, akibat-sebab, dan sebab-akibat 1 akibat 2.
a.
Sebab-Akibat
Penalaran ini berawal dari peristiwa
yang merupakan sebab, kemudian sampai pada kesimpulan sebagai akibatnya.
Polanya adalah A mengakibatkan B. Contoh:
Era Reformasi tahun pertama dan
tahun kedua ternyata membuahkan hasil yang membesarkan hati. Pertanian,
perdagangan, dan industri, dapat direhabilitasi dan dikendalikan produksi
nasional pun peningkat. Ekspor kayu dan naiknya harga minyak bumi di pasaran
dunia menghasilkan devisa bermiliar dolar AS bagi kas negara. Dengan demikian
kedudukan rupiah menjadi kian mantap. Ekonomi Indonesia semakin mantap sekarang
ini. Oleh karena itu, tidak mengIndonesia sudah sanggup menerima pinjaman
luar negeri dengan syarat yang kurang
lunak untuk membiayai pembangunan.
Hal penting yang perlu kita
perhatikan dalam membuat kesimpulan pola sebab-akibat dalah kecermatan dalam
menganalisis peristiwa atau faktor penyebab.
b.
Akibat-Sebab
Dalam pola ini kita memulai dengan
peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa itu kemudian kita analisis untuk
mencari penyebabnya. Contoh:
Pak Randi tidak pergi ke kantor hari
ini, istrinya sedang membersihkan rumah dari banjir. Oleh karena itu, pak randi
tidak masuk kantor, karena ia dan istrinya terkena bencana banjir.
c.
Sebab-Akibat-1
Akibat-2
Satu penyebab dapat menimbulkan
serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan
akibat kedua. Demikian seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat. Contoh:
Mulai tanggal 17 Januari 2002, harga
berbagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, dan
lain-lain dinaikan harganya. Hal ini karena pemerintah ingin mengurangi subsidi
dengan harapan supaya ekonomi Indonesia berlangsung normal. Karena harga bahan
bakar naik, sudah barang tentu biaya angkutan pun akan naik pula. Jika niaya
angkutan naik, harga barang-barang pasti akan ikut naik karena biaya tambahan
untuk transportasi harus diperhitungkan. Naiknya harga barang-barang akan
dirasakan berat oleh rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang harus
diimbangi dengan usaha menaikan pendapatan masyarakat.
3.
Paragraf
Campuran
Paragraf campuran adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan
persoalan pokok atau kalimat topik kemudian diikuti kalimat-kalimat penjelas
dan diakhiri dengan kalimat topik. Kalimat topik yang ada pada akhir paragraf merupakan
penegasan dari awal kalimat. Contoh:
Dalam kehidupan sehari-hari manusia
tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Kegiatan apapun yang dilakukan manusia
pasti menggunakan sarana pembatas, baik sarana komunikasi yang sederhana maupun
yang modern. Kebudayaan dan peradaban manusia tidak akan bisa maju seperti
sekarang ini tanpa adanya sarana komunikasi.
Teknik pengembangan paragraf itu secara garis besarnya
ada dua macam. Pertama, dengan menggunakan “ilustrasi”. Apa yang
dikatakan kalimat topik itu dilukiskan dan digambarkan dengan kalimat-kalimat penjelas sehingga didepan
pembaca tergambar dengan nyata apa yang dimaksud oleh penulis. Kedua, dengan
“analisis”. Apa yang dinyatakan kalimat topik dianalisis secara logis sehingga
pernyataan tadi merupakan sesuatu yang meyakinkan.[1][5]
Di dalam paraktinya, kedua teknik diatas dapat
diperinci lagi menjadi beberapa cara yang lebih praktis, diantaranya:
1. Dengan memberikan
contoh,
2. dengan menampilkan
fakta-fakta,
3. dengan memberikan
alasan-alasan, dan
4. dengan memberikan
cerita.[2][6]
Contoh:
1. - Memberikan Contoh/Fakta
Biasanya, pembaca senang membaca paragraf-paragraf
yang dikembangkan dengan cara ini. Perhatikan paragraf berikut ini:
Kegiatan KUD di desa-desa yang belum dewasa sering
dicampuri oleh tengkulak-tengkulak, seperti didesa Kioro. Semua kegiatan KUD
selalu dipantau oleh tengkulak-tengkulak. Kadang-kadang bukan memantau lagi
namanya, tetapi langsung ikut serta menentukan harga gabah penduduk yang akan
dijual ke koperasi. Tengkulak itulah yang mengatur pembagian uang yang
ditangani oleh ketua kopersi, mengatur pembelian padi, dan sebagainya. Demikian
pula halnya dalam menjual kembali kemasyarakat. Harga padi selalu ditentuka
oleh tengkulak itu. Dari hasil penjualan ini tengkulak meminta upah yang cukup
besar dari ketua kopersi.
Dalam menggunakan cara ini, penulis hendaknya pandai
memilih conto-contoh yang umum, contoh yang representatif, yang dapat mewakili
keadaan yang sebenarnya, dan bukan contoh yang terlalu dicari-cari.
2.
- Memberikan
Alasan-alasan
Dalam cara ini, apa yang dinyatakan oleh kalimat topik
dianalisis berdasarkan logika, dibuktikan dengan uraian-uraian yang logis
dengan menjelaskan sebab-sebab mengapa demikian. Perhatikan paragraf berikut:
Membiasakan diri berolahraga setiap pagi banyak
manfaatnya bagi seorang pegawai. Olahraga itu sangat perlu untuk mengimbangi
kegiatan duduk berjam-jam dibelakang meja kantor. Kalau tidak demikian, pegawai
itu akan menderita beberapa penyakit karena tidak ada keseibangan kerja otak
dan kerja fisik. Kalau pegawai pegawai itu menderita sakit, berarti ia
membengkalaikan pekerjaan kantor yang berarti pula melumpuhkan kegiatan negara.
3.
- Memberikan cerita
Biasanya, pengarang mengungkapkan kembali
peristiwa-peristiwa yang sedang atau sudah berlalu apabila ia mengembangkan
paragraf dengan cara ini. Dengan paragraf itu pengarang berusaha membuat
lukisannya itu hidup kembali. Perhatiakan paragraf berikut:
Kota Wonosobo telah mereka lalui. Kini jalan lebih
sepit berliku-liku. Bus meraung-raung
kedataran tinggi Dieng. Di samping kanan jurang menganga, tetapi pemandangan
dikejauhan adalah hutan pinus menyelimuti punggung bukit dan bekas-bekas kawah
yang memutih. Pemandangan itu melalaikan guncangan bus yang tak henti-hentinya
berkelak-kelok. Sesekali atap rumah terlihat dikejauhan.
Sumber :
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CDYQFjAEahUKEwi4yvj2zP7IAhXCc44KHSusAhI&url=http%3A%2F%2Ft_wahyu.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F4762%2FBAB2.htm&usg=AFQjCNF8L4GIZlNQ95wVcmpZp-q_D6I9qQ&sig2=qyX-591eUnoQ4hhu5N7f9g (File didownload)
http://www.cara-wanita.com/2013/09/defenisi-dan-contoh-paragraf-narasi.html
https://ajengtriansari.wordpress.com/2013/07/21/syarat-syarat-pembentukan-dan-pengembangan-paragraf/
http://bangeky.blogspot.co.id/2015/02/jenis-jenis-paragraf-berdasarkan-letak-kalimat-utama.html
http://janganpernahselingku.blogspot.co.id/2014/10/letak-kalimat-utama-dan-tekhnik.html