Senin, 06 Juni 2016

GMT 1983 vs GMT Maret 2016

(Persuasif)



     Desas desus negatif mengenai gerhana matahari 1983 masih menghantui sejumlah masyarakat untuk melihat gerhana matahari pada tahun 2016 ini. Antusiasme masyarakat pada tahun 1983 harus terkekang karena sejumlah informasi yang menyimpang dari informasi sebenarnya. Sejumlah kabar negatif sudah terlanjur tersebar melalui radio, bahkan pemerintah saat itu pun juga mnghimbau masyarakat untuk tetap berada dalam rumah saat gerhana terjadi. Banyak faktor yang membuat informasi yang setengah-setengah itu menyebar, yaitu keterbatasan masyarakat untuk mengakses informasi, kondisi pemerintahan yang masih era Orde baru, serta masih sedikitnya jumlah media pada saat itu.
     
     Namun sekarang karena teknologi informasi sudah berkembang sangat pesat serta akses internet yang mudah. Maka kita tidak perlu lagi untuk melihat gerhana matahari pada tahun 2016, dan tahun-tahun selanjuntya. Memang gerhana matahari dapat membuat mata menjadi buta tetapi ada kondisi tertentu, yaitu saat posisi gerhana matahari total(gelap gulita) lalu bergeser perlahan sehingga matahari memancarkan sinar yang begitu terang sehingga mata kita tidak cukup kuat untuk melihat sinar itu. Tetapi saat posisi matahari dalam keadaan gerhana total, dlihat dengan mata telanjang pun tidak apa-apa dan tidak akan menyebabkan mata mengalami kebutaan.

     Sayang sekali jika fenomena yang jarang terjadi ini tidak bisa kita lihat karena ketidakpahaman kita. Bahkan saat GMT Maret 2016 terjadi, banyak pihak dan komunitas yang semangat dan antusias dengan  membagi-bagikan kacamata matahari secara gratis, padahal notabene harga kacamata tersebut Rp 30.000/pc. Jadi sekarang kita tidak usah takut untuk melihat fenomena GMT yang akan terjadi di entah tahun berapa.  

GMT 1983 vs GMT Maret 2016

(Deskriptif)



     Setiap planet di galaksi bimasakti atau milkyway mempunyai garis edar atau orbit yang bentuk bermacam-macam. Gravitasi matahari yang besarlah yang membuat planet-planet sekitarnya mengitarinya dan membentuk  garis edarnya masing-masing. Adakalanya karena faktor waktu dan posisi yang pas, salah satu planet posisinya akan berada lurus dengan matahari. Sehingga membentuk fenomena gerhana.
Salah satunya fenomena yang terjadi di bumi pada bulan Maret tahun ini yaitu gerhana matahari. Gerhana matahari merupakan fenomena yang terjadi ketika posisi matahari, bulan, bumi terletak dalam posisi garis lurus. Posisi bulan berada di antara matahari dan bumi. Karena posisi bulan lebih dekat ke bumi, maka bulan menghalangi sinar matahari yang seharusnya ke bumi. Sehingga beberapa wilayah bumi ada yang mengalami gerhana matahari total dan parsial atau sebagian.
     Perbedaan gerhana matahari total (GMT) yang terjadi tahun 1983 dengan Maret 2016 adalah wilayah yang dapat melihat gerhana secara total dan keantusiasan masyarakat tentang gerhana. Pada tahun 1983 GMT  dapat dilihat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian Selatan. Untuk durasi perform  GMT ini termasuklah lama yaitu sekitar 6 menit. Sayangnya masayarakat pada saat itu harus mengurung diri di rumah, bahkan sampai ada yang bersembunyi di bawah ranjang tidur karena informasi mengatakan bahwa fenomena tersebut dapat membuat mata buta. Bahkan pemerintah pun memusnahkan puluhan ribu kacamata gerhana yang siap diedarkan ke penjuru Indonesia.
     Sedangkan GMT Maret 2016 hanya bisa dilihat di Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Dan durasi performm GMT ini hanya sekitar 3 menit dari puncak totalnya. Untuk wilayah Pulau Jawa hanya dapat melihat gerhana matahari secara parsial. Dan masyarakat dalam dan luar negeri sangat antusias menyambut gerhana matahari total yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Bahkan penjualan kacamata gerhana melonjak tajam, sehingga sulit dicari di toko online sekalipun. Dan wilayah yang dilewati GMT menggunakan kesempatan untuk dijadikan tujuan wisata.