P"Aku sendirian, sendiri di malam yang pekat.
Kesepian, Keraguan, ketakutan, kegelapan, ketidakberanian yang selalu setia menemaniku. Mereka jahat, jahat kenapa harus mereka yang menemaniku. Tolong Bantu aku untuk ke Luar, ke Luar dari mereka. Berilah aku sedikit harapan dan cahaya"
Diam. Hanya diam yang bisa aku lakukan.
Saat mereka mengejekku. Entah apa yang harus aku lakukan. Mungkin dengan aku diam mereka akan lelah dengan ocehan mereka tentang diriku.
Dingin, tanggapan dari mereka yg lain. Mereka yang hanya seolah olah tak acuh padaku, padahal saat aku pura pura tertidur mereka berbisik bisik tentangku seakan aku adalah santapan yang pas untuk menjadi bahan obrolan mereka.
Aku jalani hidupku seperti ini. Tak pernah kurasakan hidupku berarti, bahagia, tertawa lepas seperti mereka bahkan untuk senyum pun jarang aku lakukan, bahkan orang tuaku tak pernah menganggap aku ada.
Yang mereka tau, aku berangkat sekolah dan pulang dengan keadaan yang baik dan nilaiku memuaskan, sedangkan saat aku sekolah mereka sibuk memuaskan keegoisan mereka untuk lembar lembaran itu.
Hingga suatu hari perhatianku sempat teralihkan sedikit oleh satu orang, entah siapa tiba tiba ia menaruh tas dan duduk di sebelahku.
"Hai"
Mungkin ia berbicara dengan Via yang duduk di depannya, tak mungkin berbicara denganku yang seolah olah aku tak peduli dengan kehadirannya, pikirku dalam hati.
"Hei kenalin namaku Lima, kamu siapa?" Tanyanya ingin tahu sambil menjulurkan tangannya di depanku.
benarkah ini, ia berbicara padaku, menanyakan namaku.
Reflek aku menyambut tangannya dan menjabat tangannya. Satu ruangan saat itu rasanya seperti melihatku. Hei apakah aneh aku menjabat tangannya. Lalu aku alihkan pandanganku ke orang yang berada di sampingku, wajah yang manis dan penuh senyum.
"Na-ma ku Cassandra, panggil saja Sandra" jawabku agak sedikit terbata.
"Waaa namanya bagus. Ok Sandra aku boleh kan duduk di sini, soalnya yang aku lihat kosong hanya bangku sebelahmu" jawabnya sambil senyum.
Pipiku dibuat sedikit merah oleh pujiannya akan namaku, belum ada yang memujiku. Padahal ia orang baru tapi dari cara bicaranya ia sepertinya orang yang ceria dan man is, senyumnya saja manis.
"Oh ya ten- tentu boleh saja" jawabku gugup.
"Nanti Tolong temenin aku keliling sekolah ya. Sekalian ke kantin. Mau ya?" Tanyanya penasaran
"Oh ya tentu saja" jawabku datar. Padahal aku ke kantin saja jarang, apalagi keliling sekolah. Apa menariknya sih?
"Kok kamu datar sih ekspresinya, ayo dong senyum dong" suruhnya dengan tangannya mendekati ujung ujung bibirku dan menariknya sedikit.
"Nah kalau gitu kan manis. Hihi" pujinya.
Orang yang terlalu to the point.
Bel jam istirahat pun berbunyi.
"Ayo Sandra ayo, aku pengin tahu sekolah baruku nih" paksanya dengan menarik tanganku. Ah akhirnya aku bangun dari singgasana Ku Di kelas dan berjalan dengan langkah setengah diseret. Banyak yang aku pikirkan jika aku keluar dari kelas, Apa yang akan dilihat orang orang nanti.
**********
Sepi...
Di sini sepi...
Lelah, akhirnya aku bisa membaringkan tubuhku di kasur ini, dan akhirnya aku selesai menemani Lima berkeliling sekolah, rasanya keluar dari kelas, berjalan banyak di sekitar sekolah, seperti mendapatkan tatapan tajam dari orang orang yang kulewati. Tapi anehnya Lima tidak sadar dengan tatapan aneh orang orang, dan di wajahnya selalu nampak tersenyum. Orang aneh.
Bipp... bipp... bipp...
Handphoneku bunyi setelah sekian lama aku taruh di laci meja hingga aku lupa apa fungsi HP itu.
"Terima kasih Sandra tadi udh nemenin aku, maaf ya tadi aku bikin kamu kecapekan. Lima"
From : 0857xxxxxx
Hei dari mana ia mendapatkan nomorku, pikirku tak percaya
"Iya sama sama Lima, kamu tau nomorku drmn?"
SMS send....
"OK. Jangan kapok ya nemenin aku. Hihi. Aaa Sandra masa lupa sih. Kan tadi waktu makan di kantin, aku minta nmr kamu. Iih Sandra msh muda udah pikun. Hihi"
From : 0857xxxxxx
"Iya Iya nggak kok. He he. Oh Iya maaf lupa. He he"
SMS send...
"Sandra??? Ada yg mau aku tanya sama kamu. Muka kamu bikin aku penasaran sih. Kamu kok murung terus sih"
From : 0857xxxxxx
Saat membacanya, entah Apa yang harus aku balas. Aku terlalu takut untuk membalasnya. Aku takut kalau aku ceritakan, ia akan menceritakan ke yang lain. Dan mereka akan mengejekku dan membicarakanku lagi. Kuputuskan untuk tidak membalasnya.
Beberapa jam kemudian...
Bipp... bipp... bipp
Handphoneku berbunyi lagi.
"Maafkan aku Sandra, kalau aku terlalu lancang nanyanya, aku janji ga akan cerita ke siapa siapa. Aku bertanya seperti ini karena...
Apakah aku boleh menjadi temanmu???"
Saat membaca kalimat terakhir. Aku rasa tak mungkin, aku takut Lima menjadi "mereka", dan berpura pura saja.
"Teman? Katamu teman? Maaf aku tak bisa. Aku sudah banyak menerima penolakan, dan aku takut akan menjadi penolakan kembali. Lebih baik dari awal aku tolak untuk menjadi temanmu"
Sms send...
"Kenapa kamu pesimis sekali. Aku tulus ingin berteman denganmu, karena dari awal aku lihat mata dan wajahmu, sebenarnya kamu baik. Tapi karena banyak penolakan dari sekitar, wajahmu berubah menjadi dingin, atau dinginmu itu takutmu?"
From : 0857xxxxxx
"Maafkan aku tapi ini keputusanku, hargai aku. Kamu tak perlu tahu tentang diriku"
SMS send...
"Hargain kamu? Ngertiin kamu? Diri kamu aja ga hargain hati kamu untuk buka hati kamu, menerima orang baru, teman. Aku ga mau lihat wajah dinginmu, kamu terpuruk. Berilah diri kamu kesempatan San"
From : 0857xxxxxx
"Baiklah kalau begitu aku akan mencobanya. Aku akan beri diriku kesempatan. Kalau gitu sekarang aku tanya, kenapa kamu peduli sama aku dan kenapa kamu bisa selalu tersenyum?"
SMS send...
"Keputusan yang baik San. Mau tau kenapa. Karena aku lihat diriku di kamu. Dulu aku sama kayak kamu San, kalau ga ada sahabatku, mungkin aku msh terpuruk dengan pikiranku sendiri. Dan apa yang membuatku selalu tersenyum, krn sahabatku mengatakan lakukan banyak kebaikan walau itu pahit dan selalu gunakan Kata sakti, yaitu : Tolong, Maaf, Terima Kasih. Walau kedengaran tdk penting, tapi untuk orang lain itu penting, krn itu bukti kalau kamu hargain dia"
End...