Berbicara
tentang kebudayaan, maka dalam konteks saya pribadi maka awalnya adalah
menjelaskan tentang silsilah keluarga. Saya dilahirkan dari kedua orang tua
yang berdarah Jawa, ibu saya berasal Jawa Tengah dan ayah saya berdarah
Jogyakarta. Saya akan menjelaskan silsilah keluarga dari ayah saya. Saat
pertemuan keluarga besar saya pernah dijelaskan oleh pakde saya, bahwa keluarga
besar ini masih memiliki darah dari keluarga keraton Jogjakarta, dan keluarga
besar dari ayah saya memiliki nama keluarga Trah Mangkuwerdoyo. Setiap beberapa
bulan sekali keluarga besar saya selalu melakukan arisan keluarga. Dan arisan
itu sudah menjadi tradisi untuk keluarga besar saya. Seperti orang lain
kebanyakan, pada saat Ramadhan keluarga besar saya selalu mengunjungi saudara
satu sama lain demi untuk menjalin silaturahmi. Yah itu adalah sebagian budaya
atau kebiasaan kecil yang bisa saya jelaskan. Karena keluarga besar saya
berasal dari Jawa maka untuk prosesi pernikahannya menggunakan adat Jawa. Dan
fokus tulisan saya ini sebenarnya adalah membahas prosesi pernikahan dalam suku
Jawa. Kenapa saya membahas prosesi pernikahan dengan menggunakan budaya/adat Jawa
karena menurut saya adat pernikahannya sangat banyak tahapannya dan setiap
tahapan mengandung makna. Tetapi pada tulisan ini mungkin saya akan hanya
membahas garis besarnya saja, karena tahapannya sangat banyak. Daripada membuat
bosan Anda sebagai pembaca, lebih baik saya menjelaskan intinya saja. Pada
prosesi pernikahan suku Jawa ada 5 tahap, yaitu :
TAHAP
I
Pada tahap
ini sebenarnya bisa dikatakan seperti tahap perkenalan serta tahap melamar. Untuk tahap ini banyak
prosesi yang dilakukan seperti :
·
Congkog
: tahap pencarian informasi tentang
calon mempelai dengan mengutus duta atau perwakilan keluarga untuk menanyakan
status dan kondisi calon mempealai.
·
Salar : petanyaan yang ditanyakan oleh
duta, akan dijawab oleh keluarga calon. Dan acara ini dinamakan salar
·
Nontoni : kalau jawaban sesuai dengan keinginan
calon pelamar maka akan berlanjut pada tahap ini, pada tahap ini keluarga
pelamar akan datang ke keluarga calon menantu. Tahap ini digunakan untuk
mengenal calon menantu beserta keluarganya
·
Ngalamar : jika tahap nontoni berjalan, dan cocok
maka akan dilanjutkan dengan proses ngalamar yaitu utusan dari calon mempelai
pria akan datan g untuk melamar. Dan biasanya pada proses ini juga dilanjutkan
dengan penentuan hari pernikahan.
TAHAP
II
bisa dikatakan
tahap ini adalah seperti pertunangan.
Berikut prosesi prosesinya :
a. Srah-srahan : penyerahan seperangkat saran yan bertujuan untuk memudahkan jalannya acara. Dan penyerahan sarana ini mempunyai arti sendiri
a. Srah-srahan : penyerahan seperangkat saran yan bertujuan untuk memudahkan jalannya acara. Dan penyerahan sarana ini mempunyai arti sendiri
b.
Peningsetan : tukar cincin antar kedua calon
pengantin yang menagrtikan bulatnya cincin sebagai kesatuan dan keutuhan.
c. Asok
Tukon : keluarga calon mempelai pria
memberikan sejumlah uang ke keluarga wanita dengan tujuan untuk membantu serta
meringankan.
d. Paseksen
: proses permohonan doa restu
dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir dan ada seseorang
yang ditunjuk atau dipercaya untuk menjadi saksi juga.
e. Gethok
Dina : di tahap
ini ditentukan hari ijab kabul dan resepsi oleh kedua belah pihak keluarga atau
seseroang yang dipercaya.
TAHAP III
tahap ke-3 merupakan tahap pembentukan panitia acara yang biasanya melibatkan sanak saudara. Pada tahap ini dibuat serta dibagikannya undangan(sedhahan), lalu membentuk panitia hajatan, membicarakan program kerja ke panitia(kumbakarnan), dan terakhir calon mempelai melapor dan memberitahu ke KUA bahwa akan ada acara pernikahan yang disebut jenggolan/jonggolan
BABAK 4
TAHAPAN RANGKAIAN UPACARA
Pada
tahap ini sehari sebelum acara pernikahan bagian depan/pintu masuk rumah calon
mempelai wanita diberikan dekorasi tumbuhan yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan
daun beringin yang memiliki arti agar pengantin akan hidup baik dan bahagia di
mana pun.
. Pasang Tratag dan Tarub
tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu pada masyarakat yg terdiri hiasan janur kuning atau daun kelapa muda yang disuwir-uwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratag dan ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi agar terlihat meriah.
tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu pada masyarakat yg terdiri hiasan janur kuning atau daun kelapa muda yang disuwir-uwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratag dan ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi agar terlihat meriah.
b. Kembar Mayang
Sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa menghiasi panti/ asasana wiwara yang digunakan dalam acara panebusing kembar mayang dan upacara panggih. Bila acara sudah selesai, kembar mayang akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu ingat asal muasalnya.
Sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa menghiasi panti/ asasana wiwara yang digunakan dalam acara panebusing kembar mayang dan upacara panggih. Bila acara sudah selesai, kembar mayang akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu ingat asal muasalnya.
c. Pasang Tuwuhan (Pasren)
merupakan tumbuh-tumbuhan yang dipasang di tempat duduk pengantin yang bermakna isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa.
merupakan tumbuh-tumbuhan yang dipasang di tempat duduk pengantin yang bermakna isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa.
d. Siraman : merupakan upacara dengan menyiramkan air dari kendi ke calon pengantin
yang bertujuan untuk membersihkan secara fisik dan batin
e. Adol Dhawet (Jual dawet) : setelah
prosesi siraman selesai, maka akan dilanjutkan dengan jual dawet, di mana yang
menjual adalah orang tua calon pengantin wanita dan pembelinya adalah para tamu
yang membeli dengan menggunakan pecahan genting
f. Paes :
prosesi yang membersihkan bulu bulu halus di sekitar dahi atau pipi agar wajah
kelihatan lebih cerah dan bersih, lalu akan didandani.
g. Midodareni : pengantin wanita akan didandani yang cantik seperti
Dewi Widodari, dan orang tua juga akan memberikan makan terakhir kalinya ke
pengantin wanita, karena esok setelah menikah ia adalah tanggung jawab suami
h. Selametan
Berdoa bersama untuk memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul dan akad nikah.
Berdoa bersama untuk memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul dan akad nikah.
i. Nyantri atau Nyatrik
Upacara penyerahan dan penerimaan dengan ditandai datangnya calon pengantin pria berserta pengiringnya.
BABAK V
Inti Acara (Ijab Qobul & Resepsi)
Inti Acara (Ijab Qobul & Resepsi)
a. Upacara
Ijab
Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.
Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.
b. Upacara
Panggih
Setelah upacara ijab selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:
• Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.
• Gantal merupakan prosesi melempar sirih dengan tujuan agar semua godaan hilang dengan lemparan sirih tersebut
• Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.
• Minum air degan (air buah kelapa).
• Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
• Sindur yaitu menyampirkan kain/sindur ke pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.
Setelah upacara ijab selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:
• Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.
• Gantal merupakan prosesi melempar sirih dengan tujuan agar semua godaan hilang dengan lemparan sirih tersebut
• Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.
• Minum air degan (air buah kelapa).
• Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
• Sindur yaitu menyampirkan kain/sindur ke pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.
Setelah upacara panggih, kedua mempelai diantar duduk di sasana riengga. Setelah itu, acara pun dilanjutkan.
• Timbangan atau kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin wanita sebagai simbol sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin.
• Kacar-kucur merupakan simbol bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga. Dengan cara mengucurkan recehan ke mempelai wanita
• Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi.
c. Upacara
Babak Kawah :Upacara khusus untuk keluarga yang baru
pertama kali hajatan mantu putri pertama dengan membagi harta benda seperti
uang receh, beras kuning, umbi-umbian dan lain-lain.
d. Tumplek Punjen : prosesi ini dilaksanakan bagi orang yang tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah.
e. Sungkeman : sebagai ungkapan bakti kepada orang tua serta mohon doa restu.
f. Kirab : pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.
d. Tumplek Punjen : prosesi ini dilaksanakan bagi orang yang tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah.
e. Sungkeman : sebagai ungkapan bakti kepada orang tua serta mohon doa restu.
f. Kirab : pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar