Rabu, 09 April 2014

2 orang spesial

Tulisan ini untuk tugas soft skill dlm materi 'Manusia dan Cinta Kasih Sayang" serta untuk kedua orang spesialku. ^_^
Kalau berbicara tentang cinta dan tentang orang yang dicintai, mungkin tidak akan ada habisnya. Perasaan yang membuat hormon bahagia bertambah, tersenyum bila mengingatnya. Di kehidupan saya sampai sekarang ini, sebenarnya banyak orang yang saya cintai. Saya mencintai mereka karena mereka secara langsung dan tidak langsung telah mempengaruhi saya, mempengaruhi saya dengan pengalaman yang mereka berikan kepada saya, atau mereka yang menuturkan pengalaman itu sendiri ke saya, membuat saya berpikir dewasa. Pada tulisan ini saya akan menceritakan 2 orang yang sangat berpengaruh di kehidupan saya, yang tanpa mereka sadari setiap cara mereka memandang segala sesuatu, cara mereka berbicara dengan saya, tatapan mereka, mempengaruhi kepribadian saya, dan membuat saya mantap melangkah. Mereka seperti moodboaster saya, setiap saya bertemu dengan mereka, saya selalu pulang dengan hati dan wajah yang berseri-seri. Betapa bahagianya saya, di kehidupan saya yang msh berumur 18 tahun saya bertemu dengan orang orang biasa tapi mempunyai pemikiran luar biasa. Walau mereka mungkin menganggap saya hanya sebagai figuran dalam kehidupan mereka, tapi saya tidak pernah merasakan itu. Tetapi karena jasa mereka, jasa dalam membentuk kepribadian saya dan cara berfikir saya. Mungkin mereka tidak tahu betapa pentingnya mereka di hati saya tapi saya tidak peduli. Karena pada awal bertemu, berbicara saya langsung jatuh cinta dengan mereka. Ya dengan 2 perempuan hebat. Tenang saya bukan pencinta sesama jenis kok ^_^, saya mencintai mereka karena saya menganggap mereka adalah sosok kakak yang saya idamkan dari dulu karena saya adalah anak pertama yang tidak mempunyai kakak, atau saya langsung jatuh cinta pada mereka awal bertemu karena tanpa alasan. Entahlah saya bingung menjabarkannya bagaimana.
Ok pertama saya akan menceritakan seorang perempuan yang umurnya tidak berbeda jauh dengan saya hanya beda 2 tingkat, dan sekarang ia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di dinginnya kota Malang yang sedang bergelut dengan berbagai ilmu tentang hewan. Yah ia mengambil jurusan kedokteran hewan. Siapakah dia???? (jeng... jeng...)*ceritanya ada backsound. 

Yah dia adalah Ulima Hayati, biasa dipanggil Ka Ima. Sebenarnya saya sering bertemu dengannya tapi hanya sekilas saja, karena dia adalah kakak kelas waktu SMP. Yah kakak kelas yang cukup terkenal saat itu karena jumlah murid di smp saya msh tergolong sedikit, dia dikenal karena ketomboyan dia, tegas dalam berbicara, dan tentu senyumnya yang manis(kalau itu pendapat saya sendiri haha). Entah setelah ia lulus SMP atau msh kelas 3 SMP saya mendengar berita duka dari keluarga ka Ima, kalau ibunda nya telah meninggal. Sungguh berat mendengarnya, apalagi ka Ima adalah anak satu satunya, dan mungkin ibunya adalah panutannya yang paling berharga, teman yang selalu ada. Sungguh menyesal saya kalau mengingat ini, karena saya tidak bisa datang pada saat itu untuk melayat. Ok skip menceeritakan kehidupan tentangnya. Awal pertama saya bisa berbicara banyak dengannya itu sekitar saat saya masih kelas 2 SMK. Di situ saya bisa melihat dirinya menjadi dirinya sendiri, dan tanpa saya sadari kalau cara ia mengekspreksikan dirinya saat menceritakan pengalamannya mempengaruhi saya. yang sampai saat ini saya ikuti gerak geriknya(terkadang). Keberaniannya, ketegasannya, cueknya, tatapan matanya saat berbicara, cerianya, dan sikap ekspresif. Yang saya salut adalah padahal saya dan dia baru bisa berbincang lama pertama kali tapi ia sudah bisa mengekspreksikan dirinya saat berbicara. Sedetik itu juga saya jatuh cinta tanpa alasan dengannya.
Yang kedua adalah seorang perempuan lagi yang lebih tua dari saya, walau dia hanya menamatkan pendidikannya sampai SMA saja. Tapi pemikirannya sungguh dewasa. Saya bertemu dengannya ketika saya sedang PKL atau Prakerin di salah satu studio photo. Saat itu ia masih karyawan baru, yah perkenalan berjalan seperti biasanya. Dari perkenalan itu saya tahu kalau ia berasal dari Lampung dan tinggal di sini bersama ayahnya yang memang kerja di Jakarta. entah daya tarik apa yang dia punya hingga saya tertarik dengan kepribadiannya lbh dalam. 
Saya biasa memanggilnya mba Wulan. Semakin saya mengenalnya, semakin saya nyaman dengannya. Selalu saat berbicara dengannya, ada hal yang bisa saya ambil untuk dijadikan pelajaran. Saya suka sifat supelnya, selalu positif thinking, dan selalu lebih dewasa dalam menentukan tindakan. Bahkan saya rela mengantarkan dia kemana pun untuk mengetahui daerah Bekasi. Terkadang weekend kami habiskan waktu bersama. Sungguh menyenangkan bila mengingat itu, oh ya bahkan kami pernah buat kue bolu bersama. Ah indahnya bila mengenang itu. Tetapi saya sedih ketika ia harus kembali ke daerah asalnya untuk menuruti kemauan ibu. Apa daya saya tidak tahu harus berbuat apa. Saat mendengar itu saya ingin menangis, saya berpikir “berarti ga ada mba wulan lagi dong, terus aku sama siapa, kan mbak selalu ada buatku, mbak kan jadi moodboaserku”. Toh walau saya menangis seperti apapun walau tidak di depannya langsung karena tidak punya keberanian, mba Wulan tetap berangkat.
Yah mungkin segitu saja tulisan saya tentang mereka. kesimpulannya Ka Ima ibarat pembentukan mental dan gaya bahasa tubuh sedangkan mbak Wulan mengajarkan saya untuk tetap berfikir positif, tenang, dan dewasa. Mereka berdua sudah membuat perubahan besar di kehidupan saya. Bahkan saking senangnya saya setelah bertemu dengan mereka, saya sampai nanya harga mesin fotocopy di tempat fotocopy saat saya sedang memfotocopy materi. Padahal saya tipe orang yang tidak banyak berbicara. Mungkin itu tak ada hubungannya, tapi itu menunjukkan bukti bahwa mereka sangat berharga sekali buat saya. bahkan mendengar Ka Ima mau menikah saja, saya senangnya minta ampun.
Tulisan ini tertuju untuk Ka Ima dan Mbak Wulan yang berharga untukku. Makasih ya Mba dan Ka udah ada di kehidupanku, udah rela mampir sebentar di kehidupanku. Tapi walau mampir tapi kalian hebat, hebat udah bikin perubahan besar dalam hidupku. Aku ga tau kalian menganggap aku ini siapa di kehidupan kalian, seorang figuran atau bukankah? Aku tidak peduli. Yang aku peduliin sekarang adalah bagaimana cara membalas jasa kalian. Kalian udah terlalu baik, mungkin buat kalian itu adalah hal biasa yg kalian lakukan ke orang lain, tapi buat aku enggak. Terima kasih banyak buat Ka Ima dan Mbak Wulan. Kalian bakal selalu aku inget, insya allah sampai tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar