Kalimat efektif
adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan maupun tanda bacanya
sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya dan juga merupakan kalimat yang terdiri atas kata-kata yang mempunyai SPOK atau kalimat yang mempunyai ide atau gagasan pembicara/penulis.
Ciri-ciri kalimat efektif :
1) Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.
1) Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP.
2) Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku
3) Menggunakan diksi yang tepat
4) Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis.
5) Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai.
6) Melakukan penekanan ide pokok.
7) Mengacu pada kehematan penggunaan kata.
8) Menggunakan variasi struktur kalimat.
Syarat-syarat kalimat efektif :
1. Kesepadanan Struktur
Kesapadanan
adalah keseimbangan antara gagasan atau pemikiran dengan struktur bahasa yang
dipakai dalam kalimat. Kesepadanan dalam kalimat ini diperlihatkan dengan
adanya kesatuan gagasan dan kesatuan pikiran. Ciri-ciri kalimat yang memiliki
kesepadanan struktur, yaitu:
a.
Memiliki subjek dan predikat yang jelas
Contoh:
- Bagi semua siswa kelas 2 harus
mengikuti kegiatan study tour.(Tidak efektif)
- Semua
siswa kelas 2 harus mengikuti kegiatan study tour. (Efektif)
Untuk
menghindari ketidak jelasan subjek, hindarilah pemakaian kata depan (Preposisi)
di depan Subjek.
b.
Tidak memiliki subjek yang ganda di dalam kalimat tunggal.
Contoh:
- Pembangunan Jalan itu kami dibantu
oleh semua warga desa.(Tidak Efektif)
- Dalam
membangun jembatan itu, kami dibantu oleh semua warga desa. (Efektif)
2. Kepararelan Bentuk
Kalimat
efektif memiliki kesamaan bentuk kata yang digunakan di dalam kalimat. Yang
dimaksud dengan kesamaan bentuk kata adalah jika kata pertama berbentuk verba,
maka kata selanjutnya berbentuk verba. Namun, jika kata pertama berbentuk
nomina, maka kata selanjutnya berbentuk nomina. Contoh :
- Langkah-langkah dalam menulis
kalimat efektif adalah memahami, mengetahui, dan pengaplikasian definisi
kaliamt efektif. (Tidak efektif)
- Langkah-langkah
dalam menulis kalimat efektif adalah memahami, mengetahui, dan mengaplikasikan
definisi kalimat efektif.
(Efektif)
3. Kehematan Kata
Kalimat
efektif tidak menggunakan kata-kata atau frasa yang tidak perlu digunakan.
Untuk menghindari pemborosan kata di dalam kalimat, hal yang harus diperhatikan
adalah:
a.
Menghindari unsur yang sama pada kalimat majemuk
Contoh:
- Saya tidak suka buah apel dan saya
tidak suka duren.(Tidak efektif)
- Saya
tidak suka buah apel dan duren.(Efektif)
b. Menghindari
kesinoniman dalam kalimat
Contoh:
- Saya hanya memiliki 3 buah buku saja. (Tidak efektif)
- Saya hanya memiliki
3 buah buku. (Efektif)
c. Menghindari
penjamakan kata pada kata jamak
Contoh :
- Para mahasiswa-mahasiswa berunjuk rasa di depan
gedung rektorat.(Tidak efektif)
- Para mahasiswa
berunjuk rasa di depan gedung rektorat. (Efektif)
4. Kecermatan
Yang dimaksud
kecermatan adalah cermat dan tepat dalam memilih kata sehingga tidak menimbulkan
kerancuan dan makna ganda.
Contoh:
- Guru baru pergi ke ruang guru. (Tidak efektif)
- Guru yang baru
pergi ke ruang guru. (Efektif)
5. Ketegasan
Kalimat efektif
memberikan penegasan kepada ide pokonya sehingga ide pokonya menonjol di dalam
kalimat tersebut. Berikut cara
memberikan penegasan pada kalimat efektif.
a. Meletakan
kata kunci di awal kalimat
Contoh:
- Sudah saya baca buku itu. (Tidak efektif)
- Buku itu sudah
saya baca. (Efektif)
b. Mengurutkan
kata secara bertahap.
Contoh:
- Pertemuan itu dihadiri oleh menteri pendidikan,
gubernur dan presiden. (Tidak efektif)
- Pertemuan itu
dihadiri oleh presiden, menteri pendidikan dan gubernur. (Efektif)
6. Kepaduan
Kalimat efektif
memiliki kepaduan pernyataan sehingga informasi yang disampaikan tidak
terpecah-pecah.
Contoh:
- Budi membicarakan tentang pengalaman liburannya. (Tidak efektif)
- Budi membicarakan
pengalaman liburannya.
(Efekti)
7. Kelogisan
Ide kalimat dalam
kalimat efektif dapat diterima atau dimengerti oleh akal dan sesuai dengan
kaidah EYD.
Contoh:
- Waktu dan tempat kami persilahkan! (Tidak efektif)
- Bapak kepala
sekolah kami persilahkan! (Efekti)
Contoh-contoh kalimat
efektif:
- Karena tidak tidur semalaman, dia terlambat datang ke sekolah.
- Dia memakai baju merah.
- Sesudah dipahami dan dihayati pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Tugas itu bagi saya sangat mudah.
- Semua mahasiswa diwajibkan membayar uang kuliah sebelum tanggal 26 Februari 2015.
- Saya sedang membuat nasi goreng.
- Selanjutnya, saya akan menjelaskan pentingnya air bagi kehidupan.
B. KESALAHAN KALIMAT
Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu. Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:
1. Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:
· Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.
Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.
· Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.
2. Kontaminasi
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan.
Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
3. Salah pemilihan kata
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
4. Salah nalar
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.
5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
· Bahasa asing
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:
Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.
Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
I live in Semarang where my mother works.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.
· Bahasa daerah
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat kita lihat pada kalimat berikut:
Anak-anak sudah pada datang.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Anak-anak sudah datang.
Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di tabloid anak-anak Yunior.
Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune metu endi?)
Kita sebaiknya mengganti kalimat tersebut dengan: Masuknya lewat mana?
6. Kata depan yang tidak perlu
Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu seperti pada kalimat berikut:
Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga kalimatnya menjadi:
Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Ada beberapa hal yang mengakibatkan suatu tuturan menjadi kurang efektif, antara lain:
1. Kurang padunya kesatuan gagasan.
Setiap tuturan terdiri atas beberapa satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap dan mendukung satu ide pokoknya. Kita bisa melihat pada contoh berikut:
Program aplikasi MS Word dapat Anda gunakan sebagai pengolah kata. Dengan program ini Anda dapat melakukan berbagai aktivitas perkantoran seperti mengetik surat atau dokumen. MS Word adalah produk peranti lunak keluaran Microsoft.
Kalimat-kalimat pada contoh tersebut tidak mempunyai kesatuan gagasan. Seharusnya setelah diungkapkan gagasan tentang “fungsi MS Word” pada kalimat pertama, diungkapkan gagasan lain yang saling bertautan.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata.
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Sebaiknya kita menghindari kata yang tidak diperlukan benar dari sudut maknanya, misalnya:
· membicarakan tentang transmigrasi
Seharusnya: membicarakan transmigrasi
· sudah pada tempatnya apabila
Seharusnya: sudah selayaknya apabila
· Depresi ekonomi bukan hanya dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah, tetapi juga dirasakan oleh kelompok elite pribumi.
Seharusnya: Depresi ekonomi dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah dan kelompok elite.
Atau: Depresi ekonomi dirasakan kaum pribumi di semua lapisan.
3. Kurang logis susunan gagasannya.
Tulisan dengan susunan gagasan yang kurang logis dapat kita lihat pada contoh berikut:
Karena zat putih telurnya itulah maka telur dan dagingnya ayam itu sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Semua makhluk dalam hidupnya memerlukan zat putih telur, manusia untuk melanjutkan hidupnya perlu akan zat putih telur.
Kita dapat membuat tulisan itu menjadi efektif seperti berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam. Manusia adalah makhluk hidup. Jadi, manusia memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam untuk melanjutkan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi tubuh.
4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.
Pemakaian bahasa tidak baku hendaknya dihindari dalam ragam bahasa keilmuan.
· Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Gatot A.S atas bimbingannya dalam menyelesaikan buku ini.
· Sehubungan dengan hal itu Takdir Alisyahbana bilang bahwa hal bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional.
Pemakaian kata menghaturkan dan bilang tidak tepat untuk ragam bahsa keilmuan, sehingga kata-kata tersebut sebaiknya diganti dengan mengucapkan dan mengatakan.
5. Konstruksi yang bermakna ganda.
Suatu kalimat dipandang dari sudut tata bahasanya mungkin tidak salah, namun kadang-kadang mengandung tafsiran ganda (ambigu) sehingga tergolong kalimat yang kurang efektif. Kalimat yang memiliki makna ganda dapat kita lihat pada kalimat-kalimat:
· Istri kopral yang nakal itu membeli sepatu.
Unsur yang nakal itu menerangkan istri atau kopral ? Jika yang dimaksud nakal adalah istri, maka kalimat itu seharusnya menjadi:
Istri yang nakal kopral itu membeli sepatu.
· Penyuluh menerangkan cara beternak ayam baru kepada para petani.
Kata baru pada kalimat itu menerangkan kata ayam atau cara beternak? Jika kata baru menerangkan cara beternak, kalimat itu menjadi lebih baik seperti kalimat berikut:
Penyuluh menerangkan cara baru beternak ayam kepada para petani.
6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
Penyusunan yang kurang cermat dapat mengakibatkan nalar yang terkandung di dalam kalimat tidak runtut sehingga kalimat menjadi kurang efektif.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki seperti berikut:
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal ini memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.
7. Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.
Dalam kalimat yang berisi perincian, satuan-satuan dalam perincian itu akan lebih efektif jika diungkapkan dalam bentuk sejajar. Jika dalam suatu kalimat perincian satu diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat, perincian lainnya juga diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat juga (sejajar). Contoh kalimat yang perinciannya tidak sejajar:
· Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, mengklasifikasikan data, dan menganalisis data.
Seharusnya:
Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian data, dan penganalisisan data.
· Dengan penghayatan yang sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Seharusnya:
Dengan menghayati secara sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Atau:
Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
C. PENALARAN KALIMAT
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi
yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru
yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam
penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan
konklusi (consequence).
Macam-macam Penalaran, Penalaran ada dua jenis yaitu :
INDUKTIF
induktif adalah
hal khusus menuju hal umum. Ya itu kuncinya "dari yang khusus menuju yang
umum. Bila diuraikan, jangan terpatok pada gaya definisi seseorang, coba
uraikan sendiri definisi paragraf induktif dengan kata kunci "dari khusus
ke umum" tadi. Atau kalau memang malas menguraikan, mari lihat definisi
berikut;
Paragraf Induktif adalah paragraf yang dimulai dengan
menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan
umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Masih kurang puas dengan definisi tersebut? Baiklah
karena definisi yang baik disertai dengan batasan dan ciri-cirinya. Kita
uraikan ciri-cirinya. Ciri-ciri paragraf induktif dapat diketahui dengan
melihat atau membuat sebuah paragraf. Apabila dalam paragraf itu mula-mula
menyebutkan peristiwa khusus dan diakhiri dengan kesimpulan berdasar peristiwa
khusus tersebut, maka bisa dipastikan anda sedang membaca atau membuat paragraf
induktif.
Ingin paragraf diatas dibuat terpisah dalam bentuk
item ciri-ciri, agar lebih mudah difahami? Oke, berikut ciri-ciri paragrad
induktif dalam bentuk list:
Ciri-ciri Paragraf Induktif
- Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
- Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat
Penjelas
Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraf - Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
- Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
- Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasa utama
CONTOH :
-Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan
-Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan
kesimpulan ---> Semua hewan yang berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan
DEDUKTIF
deduktif adalah contoh suatu paragraf yang dibentuk dari suatu masalah yang
bersifat umum, lebih luas. Setelah itu ditarik kesimpulan menjadi suatu masalah
yang bersifat khusus atau lebih spesifik. Atau juga dapat diartikan, suatu
paragraf yang kalimat utamanya berada di depan paragraf kemudian diikuti oleh
kalimat penjelas.
Contoh :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.
Kalimat utama dari paragraph adalah kalimat yang di garis bawahi, dan kalimat itu berada depan paragraf sesuai dengan ciri-ciri dari paragraph deduktif.
Contoh :
Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.
Kalimat utama dari paragraph adalah kalimat yang di garis bawahi, dan kalimat itu berada depan paragraf sesuai dengan ciri-ciri dari paragraph deduktif.
D. KEHEMATAN ATAU EKONOMI BAHASA
Kehematan adalah upaya menghindari pemakaian kata yang
tidak perlu, sehingga kata dalam sebuah kalimat menjadi lebih padat dan berisi.
Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Menghemat kata dapat dilakukan dengan cara:
Menghemat kata dapat dilakukan dengan cara:
- Menghilangkan
pengulangan subyek.
Contoh
: Karena ia tak diundang, dia tidak datang ke pesta itu.
Mestinya
menggilangkan kata ia.
- Menghindarkan
pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Contoh:
Mira adalah gadis yang memakai baju warna merah.
Mestinya
menggilangkan kata warna.
- Menghindarkan
kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh: Jangan naik ke atas karena licin.
Mestinya
menghilangkan kata ke atas.
- Kehematan
dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak.
Contoh : Ia mengambil semua jeruk-jeruk
yang masih ada di meja.
E. DAFTAR KONJUNGSI BAHASA
Berdasarkan fungsinya konjungsi dikelompokan ke dalam
tiga bentuk, diantaranya adalah:
1. Konjungsi antar klausa
Konjungsi antar klausa adalah kata hubung yang
mengubungkan dua buah klausa atau lebih. Ada tiga macam konjungsi antara
klausa, yaitu, korelatif, subordinatif, dan koordinatif.
A. Konjungsi korelatif
konjungsi ini menghubungkan dua buah klausa yang memiliki
hubungan sintaksis setara. Macam-macam konjungsi korelatif:
baik … maupun …
tidak hanya …, tetapi ( …) juga …
bukan hanya …, melainkan …
(se)demikian (rupa) … sehingga…
apa(kah) … atau …
entah … entah …
jangankan…,…pun… .
Contoh:
Baik Riski maupun Nasar keduanya adalah anak yang
baik.
Aku tidak tahu harus berbuat apa entah pergi saja
entah datang menemuinya.
Dia menghias bunga itu sedemikian rupa sehingga
terlihat sangat indah.
B. Konjungsi subordinatif
Konjungsi ini menghubungkan dua buah klausa yang
memiliki hubungan sintaksis yang tidak sama (bertingkat). Macam-macam konjungsi subordinatif:
…..sebelum…
jika…., maka….
…agar….
Meskipun/bagaimanapun….. , …..
dan lain-lain.
Contoh:
Jika aku memliki banyak uang, aku akan pergi ke luar
negeri.
Meskipun dia sangat nakal, bagaimanapun juga orang
tuanya tetap menyayanginya.
C. Konjungsi koordnatif
Konjungsi ini sama seperti korelatif yaitu
menghubungkan dua buah klausa yang sejajar, tetapi konjungsi ini hanya terjadi
pada klausa-klausa yang sederhana. Macam-macam konjungsi koordinatif
…. dan …
… tetapi …
… atau …
Contoh:
Andi membeli buku dan baju di toko itu.
Aku ingin pergi tetapi tidak diijinkan oleh ayahku.
2. Konjungsi antar kalimat
Konjungsi antar kalimat adalah kata hubung yang
menghubungkan antara satu kalimat dengan kalimat yang lain sehingga kalimat
menjadi logis. Macam-macam konjungsi antar kalimat:
- Menyatakan konsekuensi/akibat:
Dengan demikian, akibatnya, konsekuensinya.
- Menyatakan kesediaan untuk melakukan sesuatu:
Biarpun demikian/begitu, walaupun demikian/begitu,
Meskipun demikian/begitu
- Menyatakan suatu kebalikan dari pernyataan sebelumnya:
Sebaliknya, berbeda dengan
- Menyatakan peristiwa, atau keadaan lain di luar hal
yang telah dinyatakan sebelumnya:
Kemudian, sesudah/setelah itu, selanjutnya
- Menyatakan keadaan yang sebenarnya terjadi:
Bahwasanya, sebenarnya , sesungguhnya
- Menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya:
Bahkan, Tak hanya itu, malahan
- Mempertentangkan keadaan sebelumnya:
Sayangnya, Akan tetapi, namun, kecuali
Oleh karena konjungsi ini merupakan penghubung antar
kalimat, maka konjungsi-konjungsi tersebut diawali dengan huruf kapital.
Contoh:
Dia hidup dengan sangat sederhana. Sebenarnya dia
adalah anak orang kaya.
Kakak Budi orang yang sangat pintar. Sebaliknya Budi
adalah anak yang bodoh.
3. Konjungsi antar paragraf
Konjungsi antar paragraf adalah kata-kata penghubung
yang menghubungkan antar paragraf. Konjungsi ini berguna untuk menjadikan suatu
paragrag unity, coherent, dan sistematis. Macam-macam konjungsi antar paragraf:
Terlebih lagi
Disamping…..
Tak hanya sebagai …
Oleh karena itu…
Berdasarkan …
Contoh:
Burung adalah hewan yang sangat banyak ditemui. Hampir
di semua tempat di dunia ini bisa kita jumpai berbagai macam burung seperti di
dalam hutan, perkotaan. Bahkan ada juga di padang pasir. Hal ini karena daya
adaptasi burung yang sangat bagus terhadap lingkungannya.
Selain itu, burung juga memiliki tingkat reproduksi
yang baik. Pada umumnya setiap induk burung mampu menghasilkan 4 atau lebih
telur dalam sekali bereproduksi.
Terlebih lagi, burung juga sangat berguna bagi manusia
seperti menjadi hewan peliharaan, bahan makanan, dan lain-lain. tak heran
burung sering dikembangbiakan oleh manusia.
Oleh karena itu, populasi burung di dunia ini tetap
terjaga dan sulit untuk punah. Hal tersebut mungkin terjadi karena daya
adapatasinya yang tinggi, reproduksinya yang cepat, dan juga dikembangbakan
oleh manusia.
F. DAFTAR PREPOSISI BAHASA
Preposisi atau kata depan adalah kata yang secara sintaksis terdapat di depan
nomina, adjektiva, atau adverbia dan secara semantis menandai berbagai hubungan
makna antara konstituen di depan dan di belakang preposisi tersebut. Preposisi
berada di depan nomina, adjektiva, atau adverbia, sehingga terbentuk frasa
preposisional.
Preposisi
Monomorfemis
Preposisi
Monomorfemis adalah preposisi yang terwujud sebagai satu morfem secara
morfologis. Preposisi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
akibat
atas
bagai
bagi
Preposisi
Polimorfeis
Preposisi polimorfemis adalah preposisi yang berwujud beberapa morfem.
Preposisi ini terbagi lagi atas (1) preposisi yang terbentuk dari bentuk dasar
+ afiks dan (2) preposisi yang terbentuk dari gabungan kata. Jenis preposisi
kedua terbagi lagi atas (1) preposisi yang terbentuk dari preposisi +
preposisi dan (2) preposisi + nonpreposisi.
Preposisi +
Nonpreposisi
Preposisi poimorfemis gabungan kata yang terbentuk dari preposisi +
nonpreposisi biasa berawal dengan preposisi di, ke, atau dari. Adapun
kata yang menyertai preposisi itu biasanya berasal dari nomina atau adjektiva.
Preposisi yang terbentuk dari preposisi + nonpreposisi adalah sebagai berikut:
di antara
di hadapan
di
atas
di luar
Makna
Preposisi
Makna preposisi merupakan makna gramatikal karena partikel tersebut bermakna
pada saat berdampingan dengan unsur lan. Preposisi memiliki makna yang
sangat bervariasi. Satu preposisi adalah yang memiliki makna yang lebih
dari satu. Namun demikian, ada pula beberapa preposisi yang dapat
dikelompokkan menjadi satu menandai makna yang sama atau hampir sama.
Preposisi yang
menandai hubungan makna sebagai berikut :
- Makna peuntukan, yakni preposisi:
(1) bagi
(2) demi
(3) untuk
- Makna asal, yakni preposisi
(1) dari
Sumber :
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/KALIMAT_EFEKTIF.pdf
http://www.kelasindonesia.com/2015/02/pengertian-kalimat-efektif-adalah-beserta-contoh-lengkap.html
https://ramlannarie.wordpress.com/2010/10/02/kesalahan-dalam-penulisan-kalimat/
http://achprim.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-penalaran-dan-macam-macam.html
http://rororizky.blogspot.co.id/2012/10/tugas-bahasa-indonesia-kalimat-efektif.html
http://www.kelasindonesia.com/2015/04/pengertian-dan-macam-macam-konjungsi-dalam-kalimat-bahasa-indonesia.html
http://lenterastkippgribl.blogspot.co.id/2013/02/penggunaan-preposisi-dan-konjungsi.html
https://ramlannarie.wordpress.com/2010/10/02/kesalahan-dalam-penulisan-kalimat/
http://achprim.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-penalaran-dan-macam-macam.html
http://rororizky.blogspot.co.id/2012/10/tugas-bahasa-indonesia-kalimat-efektif.html
http://www.kelasindonesia.com/2015/04/pengertian-dan-macam-macam-konjungsi-dalam-kalimat-bahasa-indonesia.html
http://lenterastkippgribl.blogspot.co.id/2013/02/penggunaan-preposisi-dan-konjungsi.html